Connect with us

Teknologi

Keuntungan Menggunakan Coworking Space

Published

on

Trenteknologi.com – Untuk meminimalisir pengeluaran bisnis, pemangkasan biaya untuk hal-hal yang tidak terlalu mendesak adalah hal yang penting. Salah satu komponen yang bisa dipangkas dalam analisis pengeluaran bisnis adalah membeli rumah atau bangunan untuk kantor dengan menyewa coworking space. Seperti yang diketahui bahwa penyewaan harga lahan saat ini, terutama di kota besar seperti Jakarta sangatlah mahal. Masalahnya adalah Jakarta adalah kota yang paling cocok untuk para pebisnis mengembangkan usahanya. Ruang kerja bersama dapat disewa dengan biaya yang terjangkau. Ruang kerja bersama menawarkan fasilitas lengkap yang bisa menunjang kegiatan Anda dalam bekerja. Fasilitas tersebut berupa layanan faks, meja kerja, printer, Wi-Fi, dan lain sebagainya. Bahkan beberapa tempat penyedia ruang kerja juga menyediakan layanan tambahan berupa layanan konsultasi bisnis, pajak, dan lain sebagainya.

go-work.com

Ada banyak sekali keuntungan yang akan dirasakan saat menggunakan layanan coworking space. Salah satunya adalah untuk mengurangi biaya pengeluaran dalam menjalankan bisnis atau bekerja untuk biaya sewa, internet, air, listrik, dan lainnya. Keuntungan lainnya adalah Anda memiliki kesempatan untuk memperluas dan membangun jaringan dengan orang lain yang memiliki basic bisnis beragam. Karena perlu diketahui bahwa di tempat atau ruang kerja bersama, semua orang dengan berbagai basic usaha akan berkumpul mulai dari pebisnis, konsultan, penulis, fotografer, blogger, dan lainnya. Untuk mengembangkan bisnis, Anda bisa menjadikan mereka sebagai rekan dalam bertukar pikiran dan berdiskusi.

Apalagi, biasanya jasa penyedia ruang kerja bersama menyediakan paket penyewaan untuk event tertentu seperti workshop, pelatihan dan lain sebagainya yang dapat membantu Anda untuk membangun koneksi  dengan para pebisnis lain. Keuntungan lainnya adalah Anda akan merasa lebih bersemangat dalam bekerja. Kenapa? Karena ruang kerja bersama bisa membantu Anda untuk bersosialisasi sehingga motivasi semakin meningkat untuk menghasilkan inovasi dan ide-ide yang baru. Keuntungan menggunakan layanan coworking space selanjutnya adalah Anda bisa memisahkan kehidupan pribadi dengan pekerjaan. Bayangkan jika Anda bekerja di rumah, tentunya akan terganggu dengan segala kebisingan dan rutinitas rumah. Layanan ini juga memungkinkan Anda untuk bekerja kapanpun dengan fleksibel tanpa terbatas dengan waktu.

GoWork Jakarta coworking space merupakan salah satu contoh office space yang memiliki berbagai kelebihan sepert yang telah di jabarkan di atas.  Jika anda berdomisili di Jakarta dan sekitarnya, anda bisa mencoba layanan dari GoWork yang berlokasi di area SCBD Jakarta tepatnya di Chubb Square JL MH Thamrin, Jakpus.

Hobinya ngoprek Android. Bahkan Android sudah dianggap seperti saudara kandungnya sendiri. Menurutnya, jika ia memakan Es Krim dengan Sandwich, Coklat KitKat dan Permen Jelly Bean adalah tindakan kanibalisme....

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Kejahatan Siber di Tahun 2017, Hacker Berhasil Mencuri Uang Total Rp. 2.390

Published

on

Trenteknologi.com – Konsumen di seluruh dunia selalu merasa dirinya aman saat menggunakan internet setiap harinya, namun menurut Laporan yang dibuat oleh Norton Cyber Security Insights 2017 ternyata disaat yang bersamaan para hacker berhasil mencuri uang dengan total nominal hingga 172 miliar dollar AS yang berasal dari 978 juta konsumen di 20 negara pada tahun 2017 lalu.

Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan sebagian besar pengguna internet tidak cukup memiliki pengetahuan mengenai dasar-dasar tentang keamanan siber. Sebagai contoh yang paling sering terjadi sehingga kejahatan siber dapat terjadi adalah konsumen selalu menggunakan kata sandi yang sama di setiap akunnya. Terhitung 39% orang yang pernah menjadi korban kejahatan siber, selalu merasa percaya diri bahwa mereka saat ini telah mampu melindungi data dan informasi pribadi dan 33% korban percaya bahwa setelah menjadi korban kejahatan siber, mereka akan memiliki resiko yang kecil untuk menjadi korban untuk kesekian kalinya.

Laporan Internet Security Threat Reports (ISTR) ke-23 baru-baru ini menyebutkan bahwa profitabilitas ransomware pada tahun 2016 menjadikannya pasar yang menarik dengan permintaan tebusan yang terlalu mahal. Namun pada tahun 2017, ‘pasar’ ransomware melakukan perubahan dengan lebih sedikit jenis ransomware dan permintaan tebusan yang lebih rendah. Sementara itu, ancaman di ranah mobile terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Tahun lalu, rata-rata 24.000 aplikasi mobile berbahaya diblokir setiap hari.

Khusus untuk pengguna internet di Indonesia, telah terhitung kurang lebih 78% dari 1.336 pengguna mengaku pernah menjadi korban kejahatan siber dengan kerugian total mencapai 35 ribu dolar AS. Pelaku kejahatan sebagian besar bermotif finansial, mereka mencuri uang dengan cara menggunakan ransomware, penipuan bank, dan serangan spear phising di industry jasa keuangan. Menurut ISTR, tampaknya terjadi peningkatan sebesar 1,29% pada tahun 2016 menjadi 1,67% di tahun 2017 dalam jumlah malware, spam, host phising, bot, serangan jaringan, ransomware, dan cryptominer.

Menurut laporan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), pada tahun 2017 lalu telah terjadi kurang lebih 205 juta serangan siber di Indonesia. Dengan jumlah serangan siber yang cukup besar tersebut, total di tahun 2017 Indonesia telah menangkap setidaknya 153 warga negara asing yang menjalankan sindikat penipuan online di Indonesia. Dan BSSN menghimbau kepada masyarakat pengguna internet di Indonesia untuk lebih bijak dan cerdas dalam menggunakan internet.

“Tindakan konsumen mengungkapkan suatu kejanggalan yang berbahaya: Meskipun terjadi gelombang rentetan kejahatan siber yang stabil yang dilaporkan oleh media, terlalu banyak orang tampaknya merasa kebal dan tidak mengambil tindakan pencegahan dasar untuk melindungi diri mereka sendiri. Kejanggalan ini menyoroti kebutuhan akan keamanan digital konsumen dan pentingnya konsumen untuk mengerti dasar-dasar keamanan guna mencegah kejahatan siber,” ujar Chee Choon Hong, Director, Asia Consumer Business, Symantec.

 

Orang Indonesia Menerapkan Langkah-Langkah Keamanan Siber, Namun Membiarkan Pintu Virtual Mereka Tidak Terkunci

Konsumen yang disurvei menggunakan teknologi perlindungan perangkat seperti ID sidik jari, pencocokan pola dan pengenalan wajah, di mana 40% menggunakan ID sidik jari, 34% menggunakan pencocokan pola, 23% menggunakan VPN pribadi, 10% menggunakan ID suara, 18% menggunakan otentikasi dua faktor dan 15% menggunakan pengenalan wajah. Namun, konsumen yang mengadopsi teknologi-teknologi tersebut masih kerap menggunakan password yang lemah dan menjadi korban kejahatan siber.

 

  • Konsumen menyatakan percaya diri, namun mereka lebih rentan terhadap serangan karena mereka melindungi banyak perangkat dan layanan yang lebih baru. Sebanyak 9% orang Indonesia yang disurvei yang menjadi korban kejahatan siber memiliki perangkat pintar untuk mengakses konten daring/streaming, dibandingkan dengan sekitar 91% yang bukan merupakan korban. Mereka juga tiga kali lebih mungkin untuk memiliki perangkat rumah yang terhubung.

 

  • Meskipun mengalami tindak kejahatan siber dalam satu tahun terakhir, 20% korban yang disurvei menggunakan password online yang sama untuk beberapa akun dan 58% berbagi kata sandi mereka setidaknya untuk satu perangkat atau satu akun kepada orang lain sehingga meniadakan upaya keamanan. Sebagai perbandingan, hanya 16% responden yang bukan merupakan korban kejahatan siber yang menggunakan kembali kata sandi mereka dan 33% berbagi kata sandi dengan orang lain. Selain itu, 34% responden menulis kata sandi mereka di selembar kertas dan 19% menggunakan kata sandi yang berbeda dan menyimpan kata sandi tersebut ke dalam file di komputer/ponsel cerdas mereka dibandingkan dengan 12% responden yang bukan korban yang juga melakukan hal yang sama.

 

Batasan-Batasan Konsumen Menjadi Kabur Antara Kejahatan Dunia Maya dan “Kehidupan Nyata”

Sebanyak 79% konsumen Indonesia yang disurvei menyakini bahwa kejahatan dunia maya harus diperlakukan sebagai tindakan kriminal. Namun, ketika hal itu ditekankan, kontradiksi pun muncul. Hampir satu dari empat orang percaya bahwa mencuri informasi online tidak seburuk mencuri barang di ‘kehidupan nyata.’ Ketika diberi contoh-contoh kejahatan siber, 52% konsumen percaya bahwa melakukan perilaku-perilaku online yang secara moral patut dipertanyakan dalam beberapa kasus tertentu terkadang dapat diterima, seperti membaca email orang lain (30%), menggunakan email palsu atau email orang lain sebagai identitas pribadi secara online (29%), dan bahkan mengakses akun keuangan seseorang tanpa izin mereka (16%).

 

Kondisi Kepercayaan Konsumen

Terlepas dari serangan-serangan siber yang terjadi tahun ini, orang Indonesia pada umumnya terus mempercayai lembaga yang mengelola data dan informasi pribadi mereka. Namun, mereka tidak mempercayai beberapa lembaga dan organisasi.

 

  • Survei menemukan bahwa konsumen memberi atau mempertahankan kepercayaan pada organisasi-organisasi seperti bank dan lembaga keuangan (43%), dan penyedia layanan perlindungan pencurian identitas (34%) meskipun terjadi serangan-serangan atas organisasi-organisasi tersebut yang menjadi berita utama tahun ini.
  • Sebanyak 20% responden kehilangan kepercayaan pada platform media sosial.
  • Survei juga menemukan bahwa lebih dari separuh (53%) korban kejahatan siber di Indonesia merasa percaya diri pada kemampuan mereka untuk mengelola data dan informasi pribadi mereka sendiri.

Continue Reading

Berita

Antisipasi Serangan Terhadap IoT Melalui Telnet, F5 Labs Berikan Solusinya

Published

on

Trenteknologi.com – F5 Networks kembali merilis Threat Analysis Report mereka yang bertajuk “The Hunt for IOT: The Growth and Evolution of Thingbots Ensures Chaos” Volume ke-4.  F5 Labs dan partner mereka yang mensuplai data, Loryka, telah melakukan penelitian mengenai serangan terhadap perangkat Internet of Things (IoT) selama 2 tahun. IoT makin menghubungkan dunia melalui Internet melalui berbagai perangkat.

Gartner mendapati pada 2017 terdapat 8,4 miliar perangkat IoT yang dipakai di seluruh dunia (tak termasuk smartphone, tablet, dan komputer). Pada 2020, diprediksi jumlahnya akan melonjak sampai 20,4-30,7 miliar. Tapi pada saat yang sama, serangan terhadap perangkat IoT juga makin tinggi dengan tujuan melakukan DDoS attack, mine cryptocurrency, pencurian data, pengintaian, dimanfaatkan sebagai proxy server, penyebaran ransomware, mendistribusikan spam, click fraud, dan sebagainya.

Hasil riset F5 Labs mendapati sebanyak 44 persen lalu lintas serangan berasal dari China, dan dari alamat IP di network China, seperti Chinanet, China Telecom, dan China Unicom, yang merupakan aktor penyerang tertinggi pada laporan F5 Labs sebelumnya. Di belakang China, penyerang lain berasal dari Amerika Serikat dan Rusia.

F5 Labs juga mendapati konsistensi kesamaan network dan alamat IP dari penyerang selama dua tahun riset. Jaringan tersebut biasanya membolehkan penggunanya melakukan apa saja yang mereka mau tanpa ikut campur (bulletproof hosting provider). Tak jarang, jaringan tersebut memang tak bisa mendeteksi atau merespons serangan dengan baik, seperti jaringan di rumah biasa. Oleh sebab itu, F5 Labs juga merilis alamat-alamat IP penyerang itu.

Sasaran penyerang hampir seluruh dunia. Di mana saja perangkat IoT yang rentan dipasang, penyerang akan langsung menemukannya. Negara yang paling banyak diserang adalah Amerika Serikat, Singapura, Spanyol, dan Hungaria. Para penyerang akan mencari titik kerentanan di dalam perangkat IoT, menanamkan thingbot (botnet di dalam perangkat IoT) terkuat. Beberapa botnet yang namanya sudah cukup familiar seperti Remaiten, Mirai, Hajime, Brickerbot (thingbot agresif yang diciptakan untuk merusak segala perangkat yang terinfeksi Mirai), IRCTelnet, Satori, Persirai, Reaper, dan Hide ‘N Seek.

Metode paling sederhana yang dipakai penyerang adalah brute force attack (meretas password) yang memanfaatkan kerentanan port 23 di jaringan telekomunikasi (telnet), menanamkan botnet atau memasukkan botnet yang bisa tumbuh sendiri, kemudian melakukan aksinya. Dari data F5 Labs diketahui bahwa dibandingkan 2016, pada Q1 2017 terjadi peningkatan serangan brute force sebesar 249 persen. Tapi menurun terus sampai Q4 2017 sebesar 77 persen. “Kami mengira, brute force attack berada di akhir musimnya, sebab kami lihat penyerang menggunakan metode lain dalam menyerang perangkat IoT dalam setahun terakhir,” kata Sara Boddy, Direktur F5 Labs.

 F5 Labs menduga penyerang telah mengembangkan metode-metode baru yang secara teknis lebih mudah. Metode-metode baru itu hanya butuh sedikit step dalam rencana penyerangan dan juga menyerang lebih sedikit perangkat, sebab yang diserang adalah port dan protocol yang tidak standar, pabrikan khusus, tipe perangkat dan model yang khusus pula.

F5 Labs juga melihat penyerang mengembangkan metodenya dan memanfaatkan serangan untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya dari perangkat yang terinfeksi. IoT adalah bisnis besar, mencapai triliunan dolar pada 2020 nanti, menurut estimasi IDC.

Secara khusus, F5 Labs melakukan pengamatan terhadap botnet Mirai pada periode  1Juni – 31 Desember 2017. Tingkat serangan Mirai masih lebih besar dibandingkan saat pengembangan dan serangan Mirai pada 2016. Pada periode itu terjadi peningkatan drastis infeksi Mirai di Amerika Latin, dan naik sedikit di AS bagian barat, Kanada, Afrika, Asia Tenggara, dan Australia. Infeksi Mirai terbesar di kawasan Asia terjadi di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan India. F5 Labs menduga bahwa Mirai sebetulnya belum mengeluarkan seluruh potensinya, jadi ancaman masih terlalu besar untuk diabaikan.

Rekomendasi F5 Labs

  • Lakukan reset password saat membeli perangkat IoT
  • Terapkan enkripsi pada jaringan nirkabel di rumah
  • Bagi perusahaan, tetapkan sistem otentifikasi multifaktor
  • Rajin-rajinlah memeriksa keamanan perangkat di perusahaan
  • Pastikan ada back-up untuk layanan penting, siapa tahu provider Anda terkena serangan thingbot
  • Terapkan dekripsi di dalam jaringan untuk menangkap lalu lintas mencurigakan yang bersembunyi di trafik yang terenkripsi
  • Pastikan perangkat IoT di jaringan terhubung dengan sistem pencegahan dan pendeteksi keamanan (IPS/IDS)
  • Bagi pabrikan, terapkan proses Secure Software Development Lifecycle (SDLC)
  • Jangan pakai kredensial admin paling basic untuk pengelolaan secara remote dan jangan juga pakai kode keras pada kredensial admin
  • Pabrikan juga sebaiknya tidak membiarkan terjadinya brute force attack
  • Izinkan pemblokiran IP dan melakukan upgrade dan patch secara remote

Continue Reading

Berita

ZTE Perkenalkan Berbagai Inovasi 5G Pertama di Dunia ke Indonesia

Published

on

Trenteknologi.com – ZTE Corporation (0763.HK / 000063.SZ), penyedia solusi telekomunikasi, enterprise dan teknologi konsumen terkemuka untuk internet mobile, memamerkan berbagai inovasi 5G pertama di dunia ke Indonesia melalui ajang Leading 5G Tour 2018.  

Sebagai perusahaan no.1 di dunia yang memiliki 4.123 paten telekomunikasi di tahun 2016, ZTE mengadakan Leading 5G Tour 2018, Indonesia adalah negara pertama, dan acara serupa akan diadakan di negara lainnya di Asia. Dalam acara ini, ZTE membawa berbagai inovasi teknologi 5G yang diluncurkan di Mobile World Congress 2018 di Barcelona, Spanyol. Solusi-solusi baru ini menandai kepemimpinan ZTE dalam Komersialisasi Solusi 5G, dengan mitra yang tersebar di lebih dari 20 operator telekomunikasi di dunia, termasuk China Mobile, China Unicom, China Telecom, T-Mobile, Wind Tre di Italia, Telenet di Belgia, VEON, U Mobile di Malaysia dan KT di Korea Selatan. ZTE juga bermitra dengan grup Ooredoo untuk merintis komersialisasi 5G di MENA, yang sudah diresmikan melalui penandatanganan MoU di MWC 2018. Kemitraan lainnya adalah Red Hat, pemimpin di komunitas OpenStack dan juga usaha untuk menyediakan solusi OpenStack siap pakai untuk pelanggan di seluruh dunia. Solusi VNF dari ZTE sudah mendapatkan sertifikasi Red Hat OpenStack Platform, yang memberikan alternatif solusi bagi para operator telko.

Pre5G Merintis Jalan Memasuki Era 5G

Peluncuran solusi Pre5G meningkatkan kemampuan LTE dan juga merintis jalan ke 5G, menjembatani dua teknologi ini agar mampu memberikan layanan baru. Pre5G juga mampu memberi pengalaman yang didukung jaringan 4G UE yang lama. Keuntungan Pre5G antara lain memberikan lebar data selular yang melampaui kecepatan Gbps untuk layanan jenis eMBB, menurunkan OPEX jaringan yang sudah ada dan memastikan evolusi yang mulus ke 5G menggunakan solusi core tervirtualisasi dan cloud RAN. Pre5G juga akan membantu operator menyediakan layanan yang serupa dengan 5G.

Di tanggal 23 Februari lalu, ZTE memenangkan dua penghargaan di ajang GTI Annual Award Ceremony di Barcelona: 2017 Market Development Award untuk kinerja luar biasa di pasar 5G dan Pre5G, serta 2017 Innovative Mobile Service and Application Award dengan solusi Qcell + MEC (indoor coverage dan high-precision positioning).

End-to-End IoDT Test Pertama di Dunia dengan standar 3GPP 5G NR Terbaru

Setelah sukses memperkenalkan solusi 5G dan Pre5G ke Indonesia tahun lalu, ZTE kini membawa test end-to-end untuk interoperabilitas yang berdasarkan standar 3GPP NR untuk membuktikan keunggulannya di bidang 5G. Kerjasama antar sistem 5G air-interface yang didasarkan pada standar 3GPP R15 ini pertama kali dilakukan oleh ZTE, China Mobile dan Qualcomm pada bulan November 2017, di laboratorium inovasi gabungan China Mobile. Uji ini meliputi base station koemrsial 5G air-interface sub-6GHz, dan mampu mencapai kecepatan UE tunggal hingga 1.4Gbps dan latensi 0.04ms.

Kesuksesan sistem air-interface ini merupakan batu loncatan yang vital untuk komersialisasi teknologi sistem 5G air-interface yang baru, sehingga mendorong jaringan 5G untuk memenuhi standar 3GPP. Untuk inovasi teknologi yang end-to-end ini, ZTE diganjar penghargaan “Best Technology Innovation for 5G” di MWC 2018.

Uji Lapangan 5G Sub-6GHz Pertama di Dunia

Masalah utama yang dihadapi operator adalah luas jangkauan sinyal, inilah mengapa ZTE dan China Mobile melakukan uji lapangan 5G 3.5GHz pertama di Guangzhou. Uji ini merupakan solusi lengkap, yang mencakup 5G Core network, base station dan UE. Bulan Juni 2017, situs pra-komersial pertama untuk 5G sub-6GHz diresmikan, dengan kecepatan puncak mencapai 2Gbps dalam lingkungan pra-komersial. Di bulan November, ZTE dan China Mobile melakukan uji bersama untuk jangkauan sinyal kontinyu dari beberapa base station, yang mampu memberikan jangkauan 5G NR secara terus-menerus.

Produk 5G Komersial End-to-End yang Lengkap

Sebagai pemimpin di bidang teknologi, ZTE memiliki portfolio produk komersial 5G yang siap untuk operator di tahun 2019, termasuk mmWave dan perangkat akses 5G Sub-6GHz, solusi 5G bearer yang beraneka ragam, dan perangkat core network 5G yang fleksibel serta berkinerja sangat tinggi. Untuk akses radio 5G, ZTE memberikan pilihan base station 5G generasi baru yang lengkap, misalnya AAU untuk 5G high frequency atau low frequency, NG BBU dengan kapasitas terbesar di industri, atau RRU dual-mode 4G/5G pertama.

Untuk 5G bearer, ZTE meluncurkan solusi Flexhaul 5G yang meliputi perangkat 1U pertama di dunia yang mendukung antarmuka 10GE, 25GE dan 100GE, serta platform 5G TB-level pertama di industri.

Mempercepat Kematangan Industri 5G: ZTE Meluncurkan Lima Solusi Berkabel di MWC 2018

5G akan membawa banyak perubahan di arsitektur dan model bisnis jaringan, bergantung pada jaringan fix dan juga mobile, oleh karena itu ZTE meluncurkan lima solusi jaringan kabel baru di MWC2018:

  • Pertama, solusi 5G Flexhaul. Di pertemuan ITU-T SG15 yang baru saja berakhir, SPN yang dipimpin China Mobile dan M-OTN menerima persetujuan standar. Di balik pencapaian itu ada dukungan penuh dari ZTE dan penyedia perangkat lainnya.
  • Kedua, solusi E-OTN. Solusi E-OTN dari ZTE sudah disempurnakan dari tahun lalu, dan mendukung Telefónica untuk melakukan penerapan komersil MAN lebih dari 100G di Meksiko, yang mempertunjukkan kemampuan komersialnya secara penuh.
  • Ketiga, solusi “IP + Optical” vPIPE. Didasarkan pada pipe resource pooling dan resource sharing, solusi ini mengubah cara tradisional untuk layanan adaptasi jaringan, dan beradaptasi dengan mudah untuk memenuhi permintaan untuk lalu lintas layanan, sehingga meningkatkan utilitasi sumber daya dan jaringan IP serta Optikal sekitar 40%-60% dan mengurangi CAPEX secara signifikan.
  • Keempat, solusi Big Video. ZTE mempertunjukkan sistem layanan video PVP OTT yang sudah sukses diterapkan di operator Afrika selatan Cell C. Pengaturan komersi diselesaikan kurang dari empat bulan dan mengumpulkan lebih dari 150 ribu pelanggan dalam tiga bulan.
  • Kelima, Optical Access Platform, TITAN. Sebagai platform inti dari konvergensi fixed-mobile ZTE untuk 5G, TITAN memiliki lebar data optikal yang kuat dan mendukung 10G PON, NG-PON2 dan teknologi PON 25G/50G. Di samping itu, sudah bisa mendukung akses WDM-PON dan bisa secara simultan mendukung 5G fronthaul agar menghemat sumberdaya fiber dalam jumlah besar.

2/3/4/5G Common Core Solution Terintegrasi Penuh

ZTE Common Core, didasari oleh 3GPP R15 service-based architecture (SBA), meliputi network function services yang berdasar spesifikasi 3GPP serta layanan public network function. Solusi ini mengintegrasikan semua moda akses termasuk fixed-mobile convergence (FMC) dalam layer network function (NF) dan network services (NS). Semua layanan mampu self-contained, digunakan ulang dan dikelola mandiri. Selain menawarkan penerapan mudah dan fleskibel, juga terstandarisasi untuk mengakselerasi inovasi, serta membantu operator terhindar dari upgrade berkala setiap jaringan wireless dan jaringan inti, yang bisa mengurangi TCO (biaya) cukup besar.

Meluncurkan Solusi Big Video Generasi Lanjut

Dengan menjadikan pengalaman pengguna faktor utama kesuksesan di pasar layanan video, ZTE meluncurkan solusi Big Video yang bisa menjadi jawaban atas kecepatan unduh yang lambat, atau latensi tinggi yang sering ditemui sebagian orang. Solusi baru ZTE ini meliputi MEC CDN yang bisa mempercepat unduh, dengan mempertahankan latensi rendah. Arsitektur Internet baru berdasar ICN/CCN akan mampu menangani informasi dan koneksi yang berlebih dan solusi Cloud STB akan menjamin peningkatan layanan serta menghemat TCO bagi operator.

“Kami senang bisa membawa inovasi-inovasi pertama di dunia ini ke Indonesia, karena komitmen kami adalah memberikan teknologi 5G terbaik, dan membantu para mitra telko kami membangun jaringan yang lebih baik dan memberi nilai lebih kepada para pelanggannya. Dengan inovasi 5G kami, harapannya kami dapat terus bermitra dengan operator telekomunikasi di Indonesia untuk membawa teknologi jaringan mereka ke tingkat lanjut,”kata Benjamin Bai, Marketing Director ZTE Indonesia.

Continue Reading

Facebook

Advertisement
Advertisement

Tips & Trick

Review

Advertisement

Xiaomi Corner

Advertisement

Top 5